Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2009

Ketiak Takdir

aku tetap terduduk di batu pualam
lidah lidah zaman menyantapku
si mungil tak berkerdil
genggam erat buih buih
sekejap lewat angin
berkedip lembah ngarai
merayu melemah pada takdir
aku tetap terduduk di batu pualam
genggam erat buih buih
sekejap sayup
ketiak lembah ngarai
merayu melemah pada takdir
aku tetap terduduk di batu pualam
gema itu meluruhkan dada
sesak itu membual
panggilanMu
membasah di relung langit
mata itu merebah sampai ke beranda
merayu melemah pada takdir




lampung, 10 jan 2009

Kamis, 27 November 2008

ANTARA SATU

Tergilas aksa
Antara satu yang tak berjalan
Batas bayang beradu bayang
Hanya detak-detak waktu terbilang
Tetap tak kan terbilang

Musnah hancur hanyut
Menyisir langit merengkuh bumi
Antara satu yang tak berjalan
Melanglang mega menabur mendung
Memang angan salah, begitukah

Tak kan berhenti diantara lembah

Solo, Januari 1997

SOBAT

Apa kau genggam
Perlukah kutahu
Mataku leleh tawamu menggema
Perlukah kumati

Kau didihkan aku
Kau injak perdikanku
Segulung kata gorok otakku

Aku dilempari bara apimu
Matikan…matikan
Ulurkan walau sejarak saja
Biar kutahu legam pecimu

Yogyakarta, April 1999

DOR

Siap…grak
Hormat …grak
Dor…dor…dor
Matador atau tukang kompor
Dor…dor…dor
Lontong siapa isinya pelor

Dor…dor…dor
Tanjidor digantung kolor
Dor…dor…dor
Metropolis ditangan Bogor
Dor…dor…dor
Moyang pelaut miskin komodor

Dor…dor…dor
Sedang rapat malah molor
Dor…dor…dor
Tuan-tuan sulit digedor
Dor…dor…dor
Berkantor kalau waktu kendor

Dor…dor…dor
Tukang kompor disangka koruptor
Dor…dor…dor
Bayi-bayi berdandan menor
Dor…dor…dor
Senator-senator membenci teror

Dor…dor…dor
Relawan tagih honor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo menjadi horor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo melebihi teror

Dor…dor…dor…dor
Balik kanan perbanyak pelor

Bandarlampung, Mei 2007