aku tetap terduduk di batu pualam
lidah lidah zaman menyantapku
si mungil tak berkerdil
genggam erat buih buih
sekejap lewat angin
berkedip lembah ngarai
merayu melemah pada takdir
aku tetap terduduk di batu pualam
genggam erat buih buih
sekejap sayup
ketiak lembah ngarai
merayu melemah pada takdir
aku tetap terduduk di batu pualam
gema itu meluruhkan dada
sesak itu membual
panggilanMu
membasah di relung langit
mata itu merebah sampai ke beranda
merayu melemah pada takdir
lampung, 10 jan 2009
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 Januari 2009
Kamis, 27 November 2008
ANTARA SATU
Tergilas aksa
Antara satu yang tak berjalan
Batas bayang beradu bayang
Hanya detak-detak waktu terbilang
Tetap tak kan terbilang
Musnah hancur hanyut
Menyisir langit merengkuh bumi
Antara satu yang tak berjalan
Melanglang mega menabur mendung
Memang angan salah, begitukah
Tak kan berhenti diantara lembah
Solo, Januari 1997
Antara satu yang tak berjalan
Batas bayang beradu bayang
Hanya detak-detak waktu terbilang
Tetap tak kan terbilang
Musnah hancur hanyut
Menyisir langit merengkuh bumi
Antara satu yang tak berjalan
Melanglang mega menabur mendung
Memang angan salah, begitukah
Tak kan berhenti diantara lembah
Solo, Januari 1997
SOBAT
Apa kau genggam
Perlukah kutahu
Mataku leleh tawamu menggema
Perlukah kumati
Kau didihkan aku
Kau injak perdikanku
Segulung kata gorok otakku
Aku dilempari bara apimu
Matikan…matikan
Ulurkan walau sejarak saja
Biar kutahu legam pecimu
Yogyakarta, April 1999
Perlukah kutahu
Mataku leleh tawamu menggema
Perlukah kumati
Kau didihkan aku
Kau injak perdikanku
Segulung kata gorok otakku
Aku dilempari bara apimu
Matikan…matikan
Ulurkan walau sejarak saja
Biar kutahu legam pecimu
Yogyakarta, April 1999
DOR
Siap…grak
Hormat …grak
Dor…dor…dor
Matador atau tukang kompor
Dor…dor…dor
Lontong siapa isinya pelor
Dor…dor…dor
Tanjidor digantung kolor
Dor…dor…dor
Metropolis ditangan Bogor
Dor…dor…dor
Moyang pelaut miskin komodor
Dor…dor…dor
Sedang rapat malah molor
Dor…dor…dor
Tuan-tuan sulit digedor
Dor…dor…dor
Berkantor kalau waktu kendor
Dor…dor…dor
Tukang kompor disangka koruptor
Dor…dor…dor
Bayi-bayi berdandan menor
Dor…dor…dor
Senator-senator membenci teror
Dor…dor…dor
Relawan tagih honor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo menjadi horor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo melebihi teror
Dor…dor…dor…dor
Balik kanan perbanyak pelor
Bandarlampung, Mei 2007
Hormat …grak
Dor…dor…dor
Matador atau tukang kompor
Dor…dor…dor
Lontong siapa isinya pelor
Dor…dor…dor
Tanjidor digantung kolor
Dor…dor…dor
Metropolis ditangan Bogor
Dor…dor…dor
Moyang pelaut miskin komodor
Dor…dor…dor
Sedang rapat malah molor
Dor…dor…dor
Tuan-tuan sulit digedor
Dor…dor…dor
Berkantor kalau waktu kendor
Dor…dor…dor
Tukang kompor disangka koruptor
Dor…dor…dor
Bayi-bayi berdandan menor
Dor…dor…dor
Senator-senator membenci teror
Dor…dor…dor
Relawan tagih honor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo menjadi horor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo melebihi teror
Dor…dor…dor…dor
Balik kanan perbanyak pelor
Bandarlampung, Mei 2007
Langganan:
Postingan (Atom)
