Kamis, 27 November 2008

DESKRIPTIF ITU KATEGORIKU

Oleh: Sun’an Yohantho

Mengomentari atau menilai karya cerpen tidak sama dengan ketika kita memberikan vonis pada ilmu pasti exactly. Penjumlahan, 5+5=10, itu tidak bisa dibantah tetapi kalau dalam karya fiksi punya anak lima dari istri kelima tidak selalu memunculkan 10 masalah. Itulah salah satu yang membedakan karya fiksi dan ilmu pasti. Sehingga karya fiksi tidak akan semudah memberikan vonis tentang kepastian peristiwa dari rentetan kejadian sebelumnya.
Mungkin ilham cinta lebih populer di kalangan penulis cerpen SMA. Seperti cerpen Punggung menyoal tentang cinta yang pada akhirnya mengarahkan tema cinta anak-anak baru gede. Memang untuk saat ini, cerpen dengan tema-tema cinta cukup banyak ditampilkan, menarik dapat membawa semangat baru untuk berkendak dalam beraktifitas. Sekilas menikmati dan membaca cerpen Punggung, pembaca akan terlalu mudah menebak arah apa yang ingin dicapai penulisnya. Cerpen Punggung menceritakan perjalanan cinta sepihak oleh tokoh aku ‘Kinanti’ kepada Iqbal. Sekarang ini cerita tentang perjalanan cinta anak SMA tidak hanya hadir di cerpen tetapi hampir setiap saat dapat kita jumpai, nikmati dalam sinetron-sinetron televisi Indonesia.
Dapat diakui, penulis sudah cukup mapan memainkan latar untuk membangun suasana. Pengelompokkan latar cerpen Punggung terbagi dalam 4 latar tempat utama;ruang perpustakaan, gunung, toko buku, rumah sakit, dan 3 latar pendukung; taman sekolah, di antara tenda-tenda, depan kelas. Penggambaran ruang/tempat dengan perangkat yang lazim melekat kepada nama yang disandang cukup jelas. Suasana pegunungan dengan udara segar, kabut dingin, rerumputan tinggi selutut, serta pepohonan besar yang menjuntai sudah bisa membawa imajinasi pembaca. Latar tempat utama dan latar pendukung sebagai bagian dari landasan penulisan cerpen Punggung sudah cukup menghidupkan gambaran suasana. Suasana latar tempat diceritakan dengan jelas dan lebih dapat dikatakan deskriptif, seperti dalam potongan dialog berikut.
Ruang perpustakaan padat dan pengap, tak urung membuatku harus beberapa kali menyeka butir-butir keringat dengan tanganku.
Namun penggambaran latar kehidupan sosial tokoh-tokohnya belum nampak tergambarkan. Padahal itu penting, untuk mengindikasikan kedalaman sebuah cerita.
Jalinan peristiwa guna mengukuhkan tema percintaan yang dikemukakan oleh penulisnya dibuat lebih menarik dengan dihadirkan konflik. Konflik-konflik batin ditonjolkan dalam perasaan diri tokoh utama aku ‘Kinanti’ . Dialog-dialog batin tokoh aku ‘Kinanti’ dalam cerpen, mengisyaratkan kesulitan penulis untuk menampilkan dialog antar tokoh. Hal itu sering ditampilkan untuk menyiasati agar jalan cerita tetap runtut hidup dan tidak memunculkan kekosongan jalan cerita seperti dalam potongan cerita berikut.
Namun, tiba-tiba kepalaku memberat, aku sulit mengendalikan keseimbanganku dan tersandung sebuah batu hitam di kakiku. Tubuhku seketika tumbang, kepalaku membentur sebuah batu tajam yang berada tak jauh dariku, yang membuat pipi kananku dingin dan memerih.
Justru dari penggalan cerita itu dapat diketahui ketidakmampuan penulis untuk mengolah suasana untuk disajikan dalam kalimat.
Cerpen Punggung kalau dicermati dengan teliti akan mengarahkan pembaca untuk membagi adegan cerita dalam 3 kelompok peristiwa. Pertama, jalan cerita berlangsung dalam situasi biasa datar belum ada konflik dengan latar situasi perpustakaan. Kedua, jalan cerita berlangsung dalam situasi konflik dengan latar situasi perjalanan pendakian menuju puncak gunung. Ketiga, jalan cerita berakhir menuju selainya konflik dengan latar rumah sakit. Penulis mungkin tidak menyadari tentang kemunculan 3 kelompok peristiwa itu, yang pada akhirnya menyamarkan perpindahan adegan. Pembaca akan mengalami hambatan setelah membaca secara tak sadar sudah pindah ke lain suasana cerita.
Batasan sebuah karya cerpen berkualitas dan tidak berkualitas memang sangat relatif. Dari sudut pandang hiburan, cerpen Punggung sudah cukup layak untuk dijadikan bacaan berbagai kalangan. Realitas dalam cerpen sudah menggambarkan suasana zamanya pada masa sekarang seperti pada penggalan cerita berikut.
Angin dingin yang keluar dari lubang-lubang AC di atas kepalaku…Sementara Rama sibuk mengoperasikan ponselnya yang tak bersignal.
Zaman sekarang orang sudah tidak merasa asing dengan AC dan HP. Berbeda dengan peradaban teknologi AC, HP tidak dijumpai pada cerpen-cerpen karya era sebelum tahun 1990. Hal itu sebagai tanda bahwa kehidupan peradaban penggunaan HP di Indonesia muncul setelah tahun 1990. Prinsip hidup, sikap hidup, yang melekat pada para tokoh cerpen Punggung tidak ada belum muncul atau tidak ditemukan. Setelah menikmati cerpen Punggung karya Anita Febrina dengan gaya bercerita gamblang lugas jelas akhirnya sedikit banyak pembaca akan menemukan pengalaman baru tentang percintaan.
Ngomong, ngobrol, curhat ngalor-ngidul sampai lupa waktu sering dilakukan banyak kalangan. Tidak mudah, orang daripada ngobrol lebih baik diam atau menulis. Hal itu telah mulai dilakukan oleh Anita Febrina sebagai kalangan generasi muda membiasakan menulis dalam keseharian. Melalui cerpen menjadikan terdokumentasikannya perkembangan peradaban pada zaman.



*Penulis adalah penikmat sastra tinggal di Lampung.

Menengok Keajaiban Cinta

Keajaiban Cinta
Ujian untuk menjadi seorang dewi asmara sudah dekat. Kini tiba saatnya bagi Aurora untuk mewujudkan impiannya. Aurora sangat berharap dapat lulus dalam ujian tersebut. Ujian itu memang tampak mudah, dia hanya harus menjodohkan dua pasang manusia dalam waktu seminggu. Tapi dibalik itu semua, tersimpan berbagai macam kesulitan.
“Aku yakin akan lulus dengan mudah.” ujar Aurora.
“Tapi kenyataannya tidak begitu! Untuk itulah, kau akan dibekali dengan sihir cinta! Cara memakainya mudah, tinggal mengarahkan telunjuk pada manusia yang dituju.” jawab Cecilia.
“Wah! Itu akan mempermudah tugasku.” canda Aurora.
“Eit! Eit! Sihir ini tidak sembarangan lho! Sihir ini hanya akan mengikat mereka yang telah dijodohkan dengan benang merah venus! Tugasmu hanya menyambungkan benang yang samar-samar itu dengan sihir cinta!” jelas Cecilia.
“Wah... Susah juga ya!” sambung Aurora.
“Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.”
“Apa itu, Cecil?” tanya Aurora.
“Ini namanya barometer cinta. Bentuknya kubuat seperti arloji, supaya tidak dicurigai oleh manusia. Cara memakainya mudah saja, tinggal kau dekatkan pada orang yang terkena sihir cinta, maka kau bisa melihat kadar cinta di hatinya saat itu.” jawab Cecilia.
“Terima kasih, Cecil. Itu akan membantu meringankan tugasku.” ujar Aurora dengan gembira.
“Hei, jangan senang dulu. Ada satu hal yang belum aku ceritakan kepadamu. Akan ada seorang dewa yang bertugas mengacaukan semua tugas para calon dewi asmara. Dan yang bertugas untuk mengganggumu adalah Crescent. Dia akan menjadi orang yang paling menyebalkan yang pernah engkau temui. Sebut saja si dewa pengganggu.” ujar Cecilia memperingatkan Aurora.
“Cecil, apakah ada cara agar dia tidak mengganggu tugas-tugasku?”
“Hanya ada satu cara, yaitu dengan cara membuatnya jatuh cinta padamu! Dengan begitu, ia akan melepas predikatnya sebagai dewa pengganggu!”
“Hah...!!! Itu sih mustahil!” teriak Aurora kaget.
“Itu tidak mustahil, semua tergantung usahamu. Kamu harus dapat menyelesaikan tugasmu itu dalam waktu seminggu! Jika tidak, kamu akan berubah menjadi manusia.dan satu hal yang paling penting. Berjanjilah bahwa kau tidak akan jatuh cinta pada seorang manusia!” Cecilia berkata dengan tegas.
“Ya, aku berjanji.”
☺☺☺☺☺
Sampai di bumi, Aurora tampak gembira karena bumi dipenuhi dengan cinta. Ketika Aurora asyik dengan khayalannya, tiba-tiba meluncur sebuah bus dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Aurora tetap tidak mendengar teriakan orang-orang di sekelilingnya. Tiba-tiba....
“Awas!” ujar seorang pria sambil mendorong tubuh Aurora ke tepi jalan.
“Huh! Hampir saja! Hati-hati dong!”
“Te... Te... Terima kasih.” ujar Aurora sambil tergagap-gagap karena kaget.
Pria itu berlalu tanpa mengindahkan ucapan terima kasih dari Aurora.
“Tunggu! Siapa nama kamu?” teriak Aurora.
“Huh! Padahal aku ingin membantu percintaannya! Ya sudahlah, bukan takdirnya aku membantu percintaannya.” Ujar Aurora sambil berlalu dari tempat itu.
Ketika akan melangkahkan kakinya, Aurora melihat sebuah kacamata tergeletak di sampingnya. Aurora yakin, kacamata itu adalah milik pria yang menyelamatkannya tadi.
Di sepanjang jalan aurora berpikir. Dia akan tinggal di bumi selama seminggu. Untuk itu, dia membutuhkan tempat tinggal dan pekerjaan. Ketika melewati sebuah restoran, Aurora membaca sebuah pengumuman yang memberitahukan bahwa restoran itu sedang mencari seorang pramusaji. Tanpa pikir panjang, Aurora masuk dan melamar di restoran itu. Setelah bertemu pemilik restoran, Aurora harus menjalani tes masuk yang akan dilakukan oleh kepala pramusaji restoran itu.
“Perkenalkan, ini Ceres. Dia adalah kepala pramusaji di sini.” ujar pemilik restoran.
“Oh, ini yang ingin menjadi pramusaji di sini. Baiklah, kau harus lulus beberapa ujian dariku dulu.” ujar Ceres.
“Pertama-tama, inline skate. Perlihatkan kemahiranmu karena semua pramusaji restoran ini bekerja memakai inline skate. Atau.... mungkin kau mau memperlihatkan berapa kali kau jatuh dalam waktu satu menit.” ujar Ceres dengan angkuh.
Aurora begitu kesal melihat keangkuhan Ceres. Dalam hati dia bertekad akan membuat Ceres malu dengan cara mendapatkan pekerjaan ini. Dalam waktu satu menit, Aurora harus mengantarkan pesanan sebanyak-banyaknya dengan memakai inline skate. Akhirnya Ceres harus mengakui kemahiran Aurora. Dan alhasil, Aurora diterima sebagai pramusaji di restoran tersebut.
“Maaf Ceres, bisakah gaji pertamanya dibayar di muka?”
“Tidak. Kenapa?”
Aurora tampak bingung. Kalau begitu, artinya dia tidak dapat mencari tempat tinggal untuk malam ini bahkan sampai seminggu lagi. Karena gajinya akan dibayar pada akhir bulan. Tapi dia tak berani mengatakannya kepada Ceres. Tanpa disadari oleh Aurora, Ceres dapat membaca perubahan raut muka yang terjadi pada Aurora.
“Oh, soal itu... Kalau mau, kau dapat tinggal di apartemenku untuk sementara.” ujar Ceres.
Aurora hanya diam. Ceres tahu bahwa Aurora sedikit bingung.
“Tenang saja. Aku ini orang baik-baik kok!” ujarnya.
Akhrinya dengan perasaan sedikit ragu, Aurora mengangguk. Setelah satu jam didalam kereta, mereka tiba di sebuah apartemen yang tampak dari luar sangat berantakan.
“Selamat datang di apartemenku yang bersih dan rapi!” ujar Ceres.
Aurora terpana melihat isi apartemen itu. Buku-buku berserakan dimana-mana, debu-debu menempel dimana-mana, dan laba-laba leluasa mebuat sarangnya dimana-mana. Aurora bergidik untuk sesaat. Ceres mengamati perubahan suasana yang tampak di wajah Aurora.
“Sudahlah, ini cukup rapi dan bersih lho untuk ukuran cowok!” ujar Ceres.
Aurora hanya mampu tersenyum dengan penuh paksaan.
“Kamar ini akan menjadi kamarmu untuk sementara ini, dan kamarku berada di sebelah kamarmu. Ingat aku tidak akan pernah macam-macam denganmu.” tegas Ceres.
Malam itu Aurora terpaksa memejamkan matanya di kamar yang penuh debu. Semua itu dilakukannya karena lelah yang sulit untuk dilawannya.
☺☺☺☺☺
Esok paginya, Aurora terbangun dengan tubuh yang sudah segar kembali. Tapi dia merasa aneh, karena apartemen itu terasa lenggang sekali. Aurora memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Firasatnya memang benar, apartemen itu terasa lenggang sekali. Tak ditemuinya wajah angkuh Ceres. Kemudian matanya tertuju pada secarik kertas yang menempel di pintu kamarnya.
Dear Aurora
Maaf aku tidak membangunkanmu, aku harus buru-buru karena pagi ini aku harus kuliah. Ada sedikit makanan di kulkas. Oh ya, jangan sampai telat datang ke restoran, karena kalau kau telat aku akan menghukummu.
Ceres.
Setelah membaca surat itu, Aurora memutuskan untuk memakai kekuatannya untuk membersihkan seluruh ruang yang ada di apartemen itu. Setelah semuanya selesai, Aurora memutuskan untuk berjalan-jalan dalam rangka menjalankan ujiannya. Dia melangkahkan kaki menuju taman kota. Sesampainya di taman kota, tiba-tiba aurora mendengar sebuah suara hati.
Aurora melihat seorang wanita bernama Karin yang sangat mengharapkan dapat bersatu dengan pria pujaannya. Pria tersebut selalu lewat di taman itu, tetapi dia tidak terlalu berani untuk menyapanya. Timbul ide cermelang di benak Aurora. Dia akan menjadikan wanita tersebut sebagai bahan ujiannya.
Ketika pria tersebut melalui Karin, Karin tetap tidak berani untuk menyapanya. Dan Aurora segera memberi sedikit sihir cinta pada pria tersebut. Dia membuat pria tersebut jatuh di hadapan Karin. Secara spontan Karin menghampiri pria tersebut.
“Maaf, kamu tidak apa-apa?” tanya Karin.
“Ah, tidak. Aku tidak apa-apa.” jawabnya.
Aurora melihat benang merah venus diantara mereka sedikit demi sedikit menyatu. Tiba-tiba Crescent muncul dan kembali memutuskan benang tersebut.
“Tidak! Jangan Crescent!” teriak Aurora.
Terjadi sedikit masalah diantara Karin dan pria tersebut.
“Huh! Dasar cewek iseng! Suka banget cari perhatian sih!” ujar pria tersebut.
Perkataan itu membuat Karin menjadi sakit hati dan menangis. Hatinya terluka mendengar kata-kata itu. Sementara itu, pertengkaran juga terjadi antara Aurora dan Crescent.
“Dasar iblis! Kamu memang jahat! Menyebalkan! Mengapa kau lakukan itu! Tidakkah kau merasa kasihan dengan wanita tersebut! Padahal kau yang menolongku waktu aku hampir ditabrak mobil! Katakan iblis!! Kalau kamu memang datang untuk mengacaukan semua tugasku! Mengapa kau menolongku!!” teriak Aurora.
“Bukan keinginanku mengacaukan tugasmu, tapi karena memang aku ditakdirkan begini.. dan aku bukan iblis, aku masih punya hati sepertimu juga... Maaf Aurora, tapi salah satu dari kita harus kalah...” ujar Crescent sambil berlalu dari hadapan Aurora.
“Tunggu! Ini terjatuh, waktu kau menolongku kemarin.” ujar Aurora.
“Thanks, sudah disimpankan. Sampai ketemu lagi.”
☺☺☺☺☺
“Maaf, aku terlambat.” Ujar Aurora dengan nafas terengah-engah.
“Bagus! Pegawai baru tapi sudah berani datang terlambat. Niat bekerja tidak sih!” bentak Ceres.
“Sudahlah Ceres. Aurora cepat ganti bajumu dan antarkan pesanan-pesanan itu.” perintah pemilik toko sambil mencairkan suasana tegang yang terjadi antara Aurora dan Ceres.
Setelah berganti baju, Aurora segera mengantarkan pesanan-pesanan yang sudah menumpuk itu.
“Hei, pegawai baru, ya? Kamu manis deh! Nama kamu siapa?” tanya salah seorang tamu.
“Aurora.” jawab Aurora sambil tersenyum manis.
“Wah... Wah... Aurora langsung populer ya? Cowok-cowok itu pasti sedang mengajaknya kencan.” ujar pemilik restoran.
“Kamu pulang jam berapa? Nanti ku jemput ya? Kita jalan-jalan yuk?” ujar tamu tersebut semakin berani.
Aurora merasa tidak senang. Tetapi dia tetap tidak mau mengecewakan pelanggan. Untung saja, Ceres memanggilnya. Aurora merasa tertolong. Dengan sopan dia meninggalkan tamu-tamu itu dan menuju kantor Ceres.
Jam kerja pun selesai, Aurora menunggu Ceres di pintu belakang restoran. Tadi, Ceres memintanya untuk menunggu di pintu belakang restoran. Ceres merasa tidak enak apabila orang lain tahu kalau dia dan Aurora tinggal bersama. Namun sudah 15 menit Aurora menunggu, Ceres tetap tidak muncul.
“Hai, Aurora. Kamu sendirian, ya? Sudah tak ada kerjaan lagi, kan? Kita jalan-jalan, yuk?”
Aurora kaget melihat sosok tamu iseng tadi siang.
“Oh, tidak. Aku sudah mau pulang, kok.” jawab Aurora sambil berpikir untuk kabur.
“Oh ya? Kalau begitu, mari kuantar pulang!”
Aurora merasa semakin ketakutan. Sosok bayangan Ceres tetap tidak kelihatan. Tiba-tiba, seorang lelaki mabuk lewat. Hanya satu pikiran yang tercipta dalam angannya. Dengan sihir cintanya, Aurora membuat lelaki mabuk tersebut jatuh cinta dan mencium tamu iseng itu.
“Maaf, ya! Dalam 3 hari efeknya hilang, kok!” ujar Aurora tersenyum dan berlalu meninggalkan dua pasangan aneh itu.
Aurora terus berjalan. Tanpa disadarinya, dia berjalan ke arah daerah yang tidak dikenalnya. Aurora tersesat, pikirannya menjadi kacau balau. Dia terus berjalan, ternyata dia sudah berada dalam hutan. Aurora menjadi semakin ketakutan. Karena takut, Aurora tidak dapat kembali ke wujud asalnya. Penderitaan Aurora semakin lengkap dengan turunnya hujan deras. Ketika Aurora menengok ke belakang.
“Aargh!!! Hantu!!! Tolong!!! Tolong aku!!!” teriak Aurora sambil berlari.
“Dasar bodoh! ha.. ha... ha... Selama ini, belum pernah ada calon dewi asmara sebodoh ini! Lari karena melihat hantu bohongan!” ujar Crescent di sela-sela tawanya.
“Wah! Sepertinya, kali ini aku menggodanya keterlaluan deh! Tapi, salahnya sendiri! Siapa suruh jadi penakut begitu! Main-mainnya sudah, ah! Sekarang aku harus mencari dia!” ujar Crescent sambil berjalan.
Sementara itu, di belakang semak-semak, Aurora meratapi nasibnya. Dia menangis. Tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang memanggil-manggil namanya. Aurora langsung berpikir bahwa Ceres mencarinya. Begitu dirasakannya suaraitu semakin dekat, Aurora langsung berlari memeluknya. Aurora mulai merasa tenang.
“Oi...! Meluknya jangan terus-terusan dong! Perasaanku menjadi tidak enak, nih!”
“Aaaargh!!! Salah orang! Kenapa malah kamu yang muncul!” teriak Aurora sambil melepaskan diri.
“Aurora, kamu tahu kan! Kalau jatuh cinta kepada manusia apa pun alasannya, itu dilarang!” ujar Crescent.
“Aku... Aku tidak jatuh cinta pada Ceres!” bantah Aurora.
“Oh ya? Syukurlah! Aku tidak mau kamu shock setelah kutunjukkan ini. Angkat tanganmu ke sini. Kamu lihat benang keemasan ini, kan? Ini benang emas venus yang menyatukan kita. Jadi apapun yang kau lakukan untuk menghindariku, itu tak akan berhasil. Kita akan selalu bertemu, karena itu memang takdir kita.” ujar Crescent dengan tegas.
Aurora merasa sangat kaget. Dia merasa tidak percaya, mereka tega menjodohkannya dengan orang seperti Crescent.
☺☺☺☺☺
Esok paginya, dia terbangun di kamarnya. Dia merasa semua kejadian semalam hanya mimpinya. Tapi dia dapat merasakan kenyataannya. Lagi-lagi Ceres sudah tidak berada di rumah. Seperti biasa, Ceres hanya meninggalkan sebuah surat. Tiba-tiba...
“Cecilia!”
“Bukankah sejak awal sudah kuperingatkan! Jangan jatuh cinta pada manusia!”
“Aku tidak jatuh cinta pada manusia! Kenapa kamu menuduh begitu!? Pasti Crescent yang mengatakannya padamu! Kenapa kamu lebih percaya pada orang menyebalkan itu daripada aku!?” bentak Aurora membela dirinya.
“Tidak. Crescent tidak pernah bertemu denganku. Maaf, ini hanya pemikiranku saja. Sebenarnya, sku datang untuk mernyerahkan pedang ini kepadamu.”
“Tapi, Cecil! Itu kan pedang dewi asmara. Kalau mereka tahu, kau pasti dihukum karena telah meminjamkan pedang itu padaku.”
“Aku tidak peduli! Waktumu tinggal 2 hari. Oleh karena itu, jika Crescent mengganggumu lagi, tusuk saja dia!!”
Tiba-tiba pintu terbuka.
“Wah! Ketinggalan nih! Duh... Padahal sudah sampai di kampus! Eh, tahunya ada buku yang tertinggal!” ujar Ceres tergesa-gesa.
“Wah! Tak ada! Disini juga! Dimana ya! Aduh hilang! Gimana nih! Uwa, iya!! Kompor, strika dan mesin cuci lupa kumatikan!” teriak Ceres sambil mengacak-acak semua barang-barangnya.
“Tenang, biar aku saja. Kamu cari saja bukumu!”
Aurora berlari ke arah dapur.
“Hmm, sekarang, di ruang ini tinggal kita beredua, ya?”
“Kamu manusia kan? Kenapa kamu bisa melihatku!?” tanya Cecilia setengah kaget.
“Ya, sekarang aku manusia. Gara-gara kamu aku menjadi manusia. Tapi, jangan lupa! Kekuatanku belum hilang! Sekalipun wujudku berubah! Pandang wajahku baik-baik! 600 tahun lalu, kamulah yang menyebabkan aku menjadi manusia! Hingga aku harus mengalami reinkarnasi berkali-kali!”
“Kamu.... Ceres.”
“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Aurora tadi. Kamu bermaksud menyuruhnya berbuat curang, kan! Mungkin lebih baik kalau kuceritakan perbuatanmu dulu padanya, supaya dia tidak percaya lagi padamu!”
“Jangan! Hentikan Ceres! Kumohon jangan!”
“Apakah dari awal kau memang berniat menusukku?”
Cecilia dan Ceres kembali dalam masa lalunya.
“Kalau kamu menyuruh Aurora menusuk Crescent, kamu akan membuatnya memiliki dosa yang sama sepertimu! Dia kan menjadi sepertimu! Dewi asmara yang sama sekali tidak memiliki cinta dalam hatinya!”
“Sudah cukup! Hentikan!”
“Apanya yang cukup? Apanya!!! Kamu menyuruh Aurora menusuk Crescent! Kamu tidak tahu betapa berartinya Crescent buatku! Cuma dia adikku! Aku tak akan membiarkannya mengalami nasib yang sama denganku!”
Kata-kata Ceres seperti sebuah tamparan bagi Cecilia. Hatinya amat sakit dan pilu! Ketika Aurora keluar dari dapur, dia tidak menemukan sosok Ceres maupun Cecilia. Dia merasa bingung dengan pertentangan di hatinya. Walaupun Crescent sangat menyebalkan, walaupun Crescent itu pengganggu, sejahat-jahatnya Crescent, Aurora merasa tidak sanggup bila harus menusuknya. Akhirnya, Aurora memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman.
Sasarannya masih sama, dia ingin menolong Karin agar dapat bersatu dengan cowok pujaannya. Ketika Karin dan pria pujaannya tak sengaja bertatap-tatapan, Aurora segera memberikan mereka sihir cinta. Tetapi Aurora tetap gagal, karena Karin memalingkan mukanya. Bersamaan itu, Crescent pun muncul.
“Dasar iblis keterlaluan! Jangan ikuti aku lagi! Aku benci kamu! Menyebalkan!” ujar Aurora sambil menampar Crescent.
“Aurora, tunggu! Aku minta maaf! Aku tidak sengaja, sungguh!”
“Aku tahu, tapi waktu sihirku gagal bereaksi ke pasangan itu, gara-gara ulahmu kan! Itu yang tak bisa kumaafkan! Waktuku hanya tinggal hari ini dan besok! Padahal aku belum menyatukan satu pasangan pun! Dan itu gara-gara kamu! Dan kalau kamu menolak pergi, mungkin kita harus bertarung!”
“Tentu saja aku menolak! Kamu pikir semudah itu mengusirku?”
Tiba-tiba, Aurora sudah menorehkan pedangnya ke tubuh Crescent yang melukai tangan Crescent.
“Aurora!!! Kamu tidak sungguh-sungguh kan!”
“Aku... Aku berterima kasih atas segala kebaikanmu selama ini... Tapi sekarang, aku di sini sebagai calon dewi asmara dan lawanmu! Cabut pedangmu dan kita bertarung! Sampai salah satu dari kita berubah menjadi manusia!” Aurora berkata sambil menangis.
“Baiklah, kalau itu memang maumu! Ok! Jangan berhenti sebelum salah satu dari kita berubah menjadi manusia.”
Setengah hati Crescent menolak untuk menerima tawaran Aurora. Hatinya terasa sakit dan pilu. Crescent menganggap dirinya bodoh karena percaya pada apa yang namanya cinta. Dia yakin dewi-dewi asmara pasti akan menertawainya bila mereka tahu bahwa dirinya telah jatuh cinta. Aurora semakin menyakinkan dirinya untuk menusuk crescent, dia merasa tidak ada jalan selain melakukan semua ini. Akhirnya terjadi pertarungan di antara mereka. Aurora mencoba menyerang Crescent.
Bersamaan dengan majunya Aurora, Crescent menjatuhkan pedangnya. Dia merasa tidak sanggup untuk melawan orang yang sangat dicintainya. Seketika...
“Aaaargh...” teriak Crescent.
Aurora menancapkan pedangnya ke tubuh Crescent. Tak lama Crescent tersungkur di tanah.
“Mengapa... Mengapa kau menyerah begitu saja!” ujar Aurora dalam tangisnya.
Aurora menjatuhkan pedangnya.
“Kali ini saja, mengertilah.... Segala usahaku untuk menghalangimu selama ini bukan semata-mata karena tugas. Ada alasan lain mengapa aku melakukan itu. Sejak awal, segala yang kulakukan ini hanya untuk menahanmu agar tetap disini bersamaku. Dan kalau aku mengakuinya, aku tahu, kamu pasti pergi. Tapi, kalau tak kukatakan sekarang, kamu pasti takkan mengetahuinya untuk selama-lamanya. Aaargh....”
“Kumohon Crescent, maafkan aku.”
“Aku rela menjadi manusia, asalkan kamu bahagia. Aurora, I Love You...”
“Crescent! Itu juga sebabnya kenapa waktu itu kamu menolongku? Jawab Crescent!! Kenapa kamu tak mengatakannya sejak dulu. Mungkin ini tak perlu terjadi. Aku tak perlu menusukmu seperti ini...”
Crescent tak mampu menjawabnya, karena crescent telah menutup matanya untuk selama-lamanya. Saat itu juga, Aurora berubah menjadi dewi asmara. Tak lama, Ceres dan Cecilia datang di sela-sela mereka. Tapi, terlambat untuk mencegah semuanya.
“Crescent? Buka matamu! Kumohon, bangunlah untukku... Crescent....!!!” teriak Ceres.
☺☺☺☺☺
“Hai, Aurora! Selamat datang lagi!”
“Kelulusanmu kali ini, benar-benar di luar dugaan lho! Tapi, ini hebat.”
“Meski tak berhasil menjodohkan seorang pun, tapi kau dapat membuat Crescent jatuh cinta sampai mau mengakuinya di depanmu. Itu adalah hal yang luar biasa! Makanya kamu lulus.”
Batin Aurora menangis, hatinya menjerit, dia tidak mengira bahwa dirinya lulus karena Crescent. Dia hanya mampu berdiam sambil menahan guncangan dalam jiwanya.
“Aurora.... Aurora... Kamu kenapa?”
Aurora berlari meninggalkan teman-temannya. Dia menuju taman Alicia. Disana, dia menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa tak pantas untuk menjadi seorang dewi asmara. Hati yang mulia seperti Crescent, tak pantas disebutnya sebagai iblis. Dirinyalah yang pantas disebut sebagai iblis, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia merasa sangat egois.
“Aurora.... sudahlah Aurora.” Ujar dewi Alicia yang tiba-tiba datang.
“Dewi Alicia? Kenapa mengunjungiku?”
“Hatimu sedang ragu. Kalau begini terus, kau takkan bisa menjadi dewi asmara yang seungguhnya, keraguanmu akan menghambat perkembanganmu nanti. Saya tahu, yang menjadi sumber keraguanmu adalah Crescent. Saya bisa mengirimmu ke masa lalu untuk bertemu dengannya, tapi dengan satu sayrat! Setelah kembali, kamu tidak boleh ragu lagi! Kamu harus segera menetapkan pilihanmu!”
“Akan saya patuhi!” ujar Aurora dengan senangnya.
“Baiklah, waktumu hanya 10 menit. Jadi, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya.”
Aurora pun segera dikirim ke masa lalu oleh dewi Alicia. Tiba-tiba dia sudah berada di depan Crescent.
“Kamu ini dewi asmara, kan? Kok bisa ada di sini?” tanya Crescent yang kaget dengan kedatangan Aurora yang tiba-tiba.
“Aku datang dari masa depan. Aku kemari karena ingin bertemu dengamu.” Aurora berkata sambil meneteskan air matanya.
“Mana mungkin! Aku tidak mengenalmu! Jangan omong yang nggak-nggak deh! Sebutkan saja keperluanmu!”
“Tidak, aku sungguh-sungguh. Aku ingin bertemu denganmu, Crescent. Di masa depan, aku sudah banyak membuatmu menderita. Tapi kumohon, maafkanlah aku, Crescent.” ujar Aurora sambil menangis di pelukan Crescent.
“Crescent, selama ini aku...”
Waktu yang diberikan dewi Alicia pun habis. Aurora tidak mampu menyampaikan perasaannya. Padahal hanya tinggal beberapa kata lagi. Dia sangat menyesal. Dia dan Crescent langsung terpisah, tanpa mempu mengucapkan yang sebenarnya.
☺☺☺☺☺
Saat itu danau Frederick terlihat sangat sunyi. Tampak Aurora sedang merenung melihat bayangannya di air.
“Sejak kembali dari bumi, Aurora sepertinya semakin menjadi aneh saja. Setiap hari kerjanya hanya melamun di pinggir danau.”
Ternyata perkataan salah seorang dewi asmara itu terdengar oleh Cecilia. Cecilia mencoba untuk menemui Aurora.
“Hei, Aurora! Selamat ya! Seperti dugaanku, kamu memang berdedikasi.”
“Kamu tahu, Cecil. Sebenarnya, aku ini tidak pantas menjadi dewi asmara. Kalau bukan karena pertolonganmu dan pengorbanan Crescent, aku pasti tidak lulus.... Saat itu, Crescent sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri. Walaupun dia sengsara, yang dipikirkannya Cuma kebahagiaanku. Dibandingkan itu, cita-cita menjadi dewi asmara sebenarnya tidak berarti apa-apa. Untuk apa menjadi dewi asmara kalau hanya membuat orang lain menderita...”
“Kenapa kamu berkata seperti itu? Kenyataannya, kamu lulus kan!”
“Memang aku lulus! Tapi dengan cara curang! Itulah kenyataannya!”
Terjadi keributan diantara mereka. Semua dewi asmara yang berada dekat mereka langsung mendekat, berusaha untuk mencairkan suasana. Namun....
“Aaaargh...” jerit Aurora yang tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke dalam danau.
Cecilia kaget dan berusaha menolongnya, tetapi niat itu dilarang oleh dewi asmara yang lain.
“Jangan Cecil! Itu danau tanpa dasar! Kalau tercebur, kamu tidak akan dapat kembali lagi ke sini!”
☺☺☺☺☺
Akhirnya Aurora menjadi manusia. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk menebus kesalahnya. Sekarang dia adalah seorang siswi salah satu SMA favourit. Ketika dia sedang berjalan menuju sekolahnya, dia melihat Karin dan pria pujaannya telah terikat dalam cinta. Ternyata sihirnya tidak gagal. Peristiwa itu semakin membuatnya untuk segera bertemu dengan Crescent.
Ketika melewati taman kota, Aurora melihat seorang anak kecil menangis karena balonnya tersangkut di pohon. Aurora berniat menolongnya, tetapi....
“Ini balonnya, jangan nangis lagi ya...”
“Terima kasih, om...”
“Huh! Dasar anak kecil! Masih pakai seragam SMA begini, sudah dipanggil om!”
“Crescent...!” teriak Aurora.
“Ah... Apa aku mengenalmu?”
Aurora merasa sangat kaget dan shock mengetahui Crescent kehilangan ingatannya.
“Cuma bercanda kok! Sampai begitu shocknya! Perkenalkan, aku Crescent. Satu sekolah denganmu, kelas 3B. Sejak awal, aku sudah tahu... bahwa kamu pasti akan kembali, Aurora.....”
Aurora merasa sangat bahagia. Hatinya diliputi rasa kerinduan yang tak berbatas. Aurora segera berlari untuk memeluk Crescent, dan Crescent dengan penuh cinta dan kasih sayang menyambut pelukan Aurora.
☺☺☺☺☺
Waktu demi waktu berlalu, Aurora dan Crescent semakin tak dapat dipisahkan. Sampai suatu hari, di pinggir danau yang diterangi oleh cahaya lilin, dibawah indahnya taburan bintang di langit, Crescent berkata....
“Aurora, maukah kau menikah denganku?” tanya Crescent sambil berlutut di depan Aurora, tangannya memegang sebuah kotak berisi cincin yang sangat indah.
Aurora merasa terkejut dan senang. Saking senangnya, Aurora merasa tak sanggup untuk bicara, dia hanya menganggukan kepalanya.
Hari yang ditunggu tiba, hari pernikahan Crescent dan Aurora. Aurora sangat bahgia, karena akhirnya cintanya dapat bersatu dengan Crescent. Hari bahagia itu dihadiri oleh Ceres, Cecilia, semua dewi asmara khususnya dewi Alicia. Crescent dan Aurora merasa bahwa hidup mereka akan selalu dihiasi oleh cinta dan kasih sayang.

THE END

Bandar lampung, 05 april 2007
14.37 WIB
Arien


MENENGOK KEAJAIBAN CINTA
Oleh: Sun’an Yohantho


Setiap jiwa manusia sudah tentu akan dihinggapi perasaan yang namanya cinta. Topik tentang percintaan yang konon dianggap ‘sakral’ oleh sebagian orang, sekarang ini masih sering dijadikan lahan ide dalam dunia cerita fiksi seperti cerpen, novel, dan bahkan sinetron. Kenyataan yang ada, ide-ide percintaan sampai saat ini memang masih pantas untuk dijadikan objek guna menghidupkan suasana cerita. Ide cinta memiliki daya tarik tersendiri yang kadang membawa pembaca untuk mencoba mengetahuinya. Bisa kita jumpai contoh dalam sajian menu hiburan sinetron di televisi nasional hampir semuanya mengangkat sebuah cerita dibumbui dengan percintaan. Kenyataan-kenyataan itulah yang memungkinkan Arien sebagai penulis pemula termotovasi untuk mengangkat ide mengenai percintaan.
Kelaziman dalam mewujudkan sebuah cerpen kadang-kadang sering terlupakan oleh penulis-penulis pemula seperti, sisi ide, sisi struktur cerita, fokus cerita, sisi kebahasaan, dan sisi judul cerita. Seperti dalam cerpen Keajaiban Cinta, mungkin semua sisi itu muncul karena para penulis muda kurang banyak membaca karya orang lain sebagai pembanding untuk menghasilkan karya. Padahal dengan lebih banyak mengetahui karya-karya pengarang ternama akan memperkaya ide-ide tapi bukan untuk meniru, kata Helvy Tiana Rosa dalam bukunya Segenggam Gumam.
Pertimbangan dari berbagai aspek perlu dilakukan guna menunjukkan kelebihan dan kekurangan yang sering terjadi pada penulis muda atau pemula. Minimal aspek yang harus hadir dalam sebuah cerita adalah norma estetika, norma sastra, dan norma moral. Ketiga aspek itu harus muncul dalam karya sastra sebagai bacaan yang layak dibaca masyarakat umum tanpa batas apapun.
Alur cerita dalam cerpen Keajaiban Cinta ditampilkan dalam alur maju yang berurutan sehingga peristiwa awal tentunya akan mendukung munculnya peristiwa berikutnya. Sisi waktu diceritakan secara urut dari hari pertama sampai hari ketujuh, hal itu membantu pembaca untuk mempermudah memahami jalannya peristiwa dalam cerita. Seperti dalam kutipan berikut bahwa sang tokoh sudah melalui proses waktu sampai hari kelima.

“Aku tahu, tapi waktu sihirku gagal bereaksi ke pasangan itu, gara-gara ulahmu kan… Waktuku hanya tinggal hari ini dan besok. Padahal aku belum menyatukan satu pasangan pun”.

Kejadian dimulai dari posisi datar dengan konflik-konflik didalamnya diakhiri dengan klimaks selesainya masalah. Kadang-kadang alur dan urutan waktu tidak diperhatikan oleh pengarang sehingga pembaca akan mengalami kesulitan memaknai atau memahami sebuah karya sudah berjalan sampai sejauh mana? Cara mengolah urutan waktu dalam Keajaiban Cinta sudah cukup hidup sehingga kebingungan pembaca tidak terjadi.
Menarik tidaknya sebuah cerita tidak bergantung pada nama-nama tokoh, masih banyak unsur lain yang saling mendukung sehingga sebuah karya menarik untuk dinikmati. Persoalan menentukan nama tokoh merupakan kemerdekaan pengarang, justru bagi tingkatan pengarang pemula nama tokoh dapat dijadikan tolok ukur keluasan sebuah karya. Mengapa demikian? Karena dalam Keajaiban Cinta nama-nama tokoh diambil dari nama-nama asing seperti: Aurora(tokoh utama), Cecilia(tokoh pendukung), Crescent(tokoh tandingan), Ceres(tokoh pendukung), Karin(tokoh pendukung), Dewi Alicia(tokoh pendukung), pemilik restoran(tokoh pendukung), dan tamu restoran. Namun dari nama tokoh bisa juga dijadikan tolok ukur keaslian sebuah karya. Munculnya nama-nama asing itu karena luasnya pengetahuan pengarang atau merupakan saduran, hal itu harus menjadi sebuah pertimbangan yang serius.
Cerpen Keajaiban Cinta mencoba mengangkat topik klasik tentang cinta karena patut diduga bahwa masa muda adalah masa bahagia penuh dengan perihal kegembiraan. Pemahaman tentang masa muda merupakan transisi dalam membentuk karakter untuk menyongsong kedewasaan kadang dikaburkan oleh hura-hura. Benang merah masa muda dengan cerpen Arien: Keajaiban Cinta tidak akan terlepas dari sisi latar belakang pengarangnya. Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena jiwa anak muda, masa puber pengarang yang sekarang ini masih duduk di bangku SMA dimungkinkan juga sebagai dasar ilham untuk menyajikan tulisan lewat cerpennya. Pengarang Keajaiban Cinta mencoba membawa pembaca mendalami rahasia tentang kehidupan percintaan yang dialami oleh tokoh dalam dunia dewa. Kehidupan dewa digambarkan seperti kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Unsur pertentangan pandangan yang dialami oleh para tokoh masih dominan antara baik dan buruk. Seperti dalam kutipan berikut terlihat menonjol unsur baik melawan kebathilan.

“Dasar iblis! Kamu memang jahat! Menyebalkan! Mengapa kau lakukan itu? Tidakkah kau merasa kasihan dengan wanita tersebut! Padahal kau yang menolongku waktu aku hampir ditabrak mobil! Katakan iblis! Kalau kamu memang datang untuk mengacaukan semua tugasku”.

Keberhasilan menampilkan konflik antara tokoh Aurora dengan Crescent sebenarnya memperjelas tentang gagasan yang ingin disampaikan pengarang bahwa cinta dapat muncul dari pertentangan. Hal itu membuktikan bahwa dalam Keajaiban Cinta tidak memunculkan ide-ide, pemahaman, dan pandangan baru tentang percintaan atau dapat dikatakan dominasi ide-ide klise mewarnai karya.
Sisi kebahasaan diakui oleh banyak kalangan menentukan keberhasilan komunikasi antar pihak. Bahasa pengarang Keajaiban Cinta cukup sederhana tidak menimbulkan pemaknaan lagi, sekali membaca akan tahu maksudnya. Kata-kata dipakai dalam Keajaiban Cinta untuk menjadikan sebuah kalimat hampir semuanya mudah dipahami tetapi kata asing terutama dalam bahasa Inggris kadang muncul seperti berikut ini.

“Aku rela menjadi manusia, asalkan kamu bahagia. Aurora, I love you…cuma bercanda kok! Sampai begitu shocknya”.

Sebenarnya penggunaan istilah-istilah asing dalam sebuah karya tidak perlu hadir selama tidak tergantikan dalam bahasa Indonesia. Maksud yang mungkin ingin dituju oleh penulis muda dengan menghadirkan istilah asing akan menambah lebih bergaya. Itu merupakan pandangan salah, karena kita patut prihatin saat ini kebanggaan terhadap bangsa ini berkurang terutama para penulis muda. Egoisme terhadap pemakaian bahasa Indonesia perlu dimulai dari generasi muda.
Semangat untuk menulis di kalangan muda Lampung mulai ada dan hidup. Berkaitan dengan semua itu tentunya cerpen Keajaiban Cinta cukup banyak memberikan warna dalam ranah sastra di Lampung. Dari sisi gagasan masih klise percintaan, estetika kurang, ceritanya terlalu panjang, dan keaslian cerita perlu dikaji kembali tetapi sudah dapat dikatan menghibur karena segi bahasanya mudah dipahami, alur ceritanya sederhana, dan berhasil mengecoh pembaca. Mengapa pembaca terkecoh? Karena cerpen Keajaiban Cinta justru tidak ada yang ajaib dari sisi mana pun. Dari sisi norma sastra, Keajaiban Cinta sudah merefleksikan kebenaran kehidupan manusia, menarik untuk dibaca, dan menyuguhkan kenikmatan. Sudah patutkah kita untuk berbangga hati terhadap penulis muda kita, terutama yang ada di Lampung?



*)Penulis adalah penikmat sastra tinggal di Lampung.
Alumni Sastra Jawa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

TITIK NADIR KEGELISAHAN BAHASA LAMPUNG

Oleh: Sun’an Yohantho*

Say bumi ruwa jurai. Ungkapan ini sering menggelitik saya ketika pertama saya menginjakkan kaki di bumi Lampung. Sebagai pendatang, saya punya persepsi bahwa saya akan menemukan bahasa ibu yang digunakan masyarakat Lampung sebagai alat komunikasi dalam keseharian. Akan tetapi malah sebaliknya, mendengar masyarakat berdialog dengan beraksen Betawi. Akhirnya, saya tidak langsung memfonis bahwa masyarakat Lampung tidak mempunyai kebanggaan ‘rasa memiliki bahasa daerah’ yang tinggi. Mungkin, hal ini di sebabkan oleh letak geografis Lampung yang lebih dekat dengan Jakarta, kota metropolitan. Mungkin saja, kemetropolisan Jakarta dipandang serba modern sehingga dianggap paling layak hadir untuk menjadi acuan. Itu baru asumsi saya saja. Apa yang menarik dari Lampung? Tentu orang akan tertarik pada hal-hal yang sifatnya nyata tidak abstrak seperti; jumlah penduduk, luas wilayah, hasil bumi, tempat wisata, satwa gajah, dan rumah adatnya. Dominasi daya tarik suatu daerah selama ini lebih mengarah kepada kepentingan ekonomi dibandingkan dengan kepentingan sosio-budaya. Memang ekonomi penting tetapi kepentingan itu tidak selalu harus menganaktirikan kepentingan diluar ekonomi. Karena unsur pendukung bangunan sebuah komunitas wilayah daerah(etnis kelompok/masyarakat) menurut saya harus menonjolkan kecirian budaya termasuk bahasa. Hal itu tentunya harus dibarengi dengan keseriusan terhadap pembangunan budaya yang tidak setengah hati.
Permasalahan sampai saat ini belum banyak hasil penelitian yang berani mengungkapkan jumlah penutur bahasa Lampung melalui sebuah pemetaan. Dari pemetaan bahasa dapat diketahui peta bahasa yang dipakai di suatu daerah. Minimnya hasil penelitian tentang tingkat tutur dan jumlah penutur bahasa Lampung menyebabkan situasi wacana kebahasaan di Lampung tidak berkembang. Melalui penelitian dapat mengetahui gambaran perbandingan jumlah penutur bahasa-bahasa yang dipakai penduduk di wilayah Lampung. Realitas penutur di lapangan kadang perlu diwujudkan dalam sebuah data sebagai tolok ukur sampai sejauh mana kuantitas penuturnya. Bahkan kajian keilmuan mengenai sastra lokal yang dibarengi dengan kajian filologis yang berkaitan dengan naskah kuna baik lisan maupun tulis belum banyak yang diterbitkan. Upaya itu tidak boleh berhenti pada tindakan menyajikan data saja harus dibarengi juga dengan tindakan ekstrem membandingkan dengan jumlah penduduknya. Sehingga dapat menepis pandangan berbagai kalangan yang banyak mengklaim bahwa dimasa mendatang bahasa Lampung akan punah. Pada ujungnya wacana yang berkembang tidak menciptakan perbalahan yang akhirnya menuju kegelisahan di masyarakat.
Disamping melalui sebuah penelitian, tanggung jawab pelestarian bahasa Lampung agar dapat lestari membutuhkan tindakan nyata dari berbagai pihak. Pemerintah Provinsi Lampung sudah memulai dengan menerbitkan peraturan daerah mengenai kebahasaan Lampung. Dunia pendidikan juga ikut bertanggung jawab secara moral keilmuan. Acuan pendidikan tingkat dasar sudah menerapkan muatan lokalnya. Jenjang pendidikan tinggi dengan membuka program studi bahasa Lampung tingkat diploma (D-3) telah dilakukan oleh UNILA sejak tahun akademik 1989—1999. Alangkah lebih baik fakultas sastra budaya ilmu murni tingkat strata satu harus segera diwujudkan. Wacana jenjang pendidikan tinggi yang kesemuanya untuk menciptakan tenaga pengajar, tenaga-tenaga ahli dalam sastra, bahasa, dan filologi bahasa Lampung harus didukung terus. Semua itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dikala keprihatinan tentang eksistensi bahasa Lampung mencuat, saya sempat terusik oleh salah satu pemberitaan koran Lampung Post Sabtu, 14 Juli 2007 mengenai keputusan FKIP UNILA untuk menghentikan sementara program studi D-3 bahasa Lampung. Setidaknya lembaga pendidikan milik pemerintah yang pembiayaan hidupnya dari dana rakyat tidak mengambil tindakan seperti itu. Hanya dengan alasan yang sangat klise karena lulusannya kurang diperhatikan pemerintah provinsi. Apa semua lulusannya harus jadi PNS? Kalau itu yang menjadi kendala utama, Lampung akan tertinggal banyak langkah dengan daerah lain. Lembaga yang seharusnya meningkatkan jenjang pendidikan untuk menunjang perkembangan keilmuan akhirnya patah semangat mupus dalam idealisme zaman.
Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan itu mungkin dapat sebagai pertimbangan untuk memulai tindakan dari sekarang. Lebih banyak frekuensi pengenalan penggunaan bahasa Lampung dalam keseharian, seperti agenda-agenda formal dan nonformal mungkin dapat dikatakan sebagai sebuah langkah maju. Hal itu telah dilakukan oleh beberapa pihak seperti: agenda RRI, TVRI, Kantor Bahasa Provinsi Lampung dengan program pemetaan bahasanya tahun 2006, dan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung dengan rencana menerbitkan majalah berbahasa Lampung. Banyak tulisan dari berbagai kalangan dimuat dalam surat kabar daerah Lampung yang membahas nasib bahasa Lampung. Tulisan mereka tidak hanya sekedar mengomentari, tentunya kesemuanya karena peduli, empati, dan boleh dikata sangat cinta terhadap Lampung. Wacana yang akhirnya memunculkan polemik mengenai bahasa Lampung dari sekarang sampai di tahun-tahun mendatang harus tetap digalakkan guna koreksi kemajuann dirinya.
Banyak yang khawatir terhadap keberlangsungan hidup bahasa Lampung sebagai sebuah budaya, cemas, gelisah, bahkan menemui jalan buntu untuk mempertahankan eksistensinya. Perilaku menyalahkan, antipati atau membendung bahkan menolak terhadap kemajuan peradapan diluar itu tidak perlu. Kita lebih perlu bertindak action membangun konstruksi dari sudut pandang internal. Tawaran antara budaya dan ekonomi memang sering memberikan arah pilihan ke hal yang lebih menjanjikan serta langsung dapat dinikmati. Kecenderungan untuk memajukan budaya dirasa kurang banyak menguntungkan dari finansial. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang dengan idealisme tinggi tentang kelampungan.
Daya dukung kelanggengan sebuah bangunan budaya termasuk di dalamnya bahasa agar tetap lestari ternyata membutuhkan kemauan dari berbagai pihak dengan menyatukan banyak unsur. Kita harus bisa berbudi dan berdaya guna membangun dari dalam tentang kemauan unutuk memajukkan dan menyemangati lestarinya sebuah masyarakat berbudaya. Sehingga masyarakat Lampung dapat dikatakan masyarakat yang berdaya yang tidak perlu/butuh lagi untuk diberdayakan dalam kompleks bahasa. Paling tidak kalau ditanya bagaimana kondisi bahasa Lampung saat ini dan akan datang? Tentu jawabannya wawai-wawai saja.
Muhammad Yamin sang nasionalis kita pernah berujar”tiada bahasa hilanglah bangsa”, makna apa yang terkandung didalamnya? Dasar itulah yang menjadikan bahasa Indonesia sekarang ini masih tetap kokoh berdiri eksis dalam rumahnya. Kondisi bahasa Lampung seharusnya tidak akan jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, meski banyak tantangan dan hambatan dalam perkembangannya. Lampung sebagai sebuah konstruksi daerah provinsi sudah lengkap, hanya membutuhkan identitas lokal untuk dapat disebut sebagai sebuah bangunan yang lengkap. Lampung punya aksara, punya bahasa, bahkan memiliki aksen Nyo dan Api sebagai varian kelokalan.



*Penulis adalah pemerhati bahasa
yang tinggal di Bandarlampung

SASTRA DAN MEDIA CETAK

Oleh : Sun’an *

Kebutuhan terhadap komunikasi dan informasi yang up to date dewasa ini telah melekat dalam peradaban kehidupan sosial masyarakat, mulai dari tingkatan terkecil: rumah tangga sampai dengan tingkatan terbesar: negara. Kebutuhan akan informasi yang dahulu hanya dapat dipenuhi melalui pembicaraan tatap muka orang per orang atau face to face sekarang cara mendapatkan informasi tidak harus melalui tatap muka, tetapi dapat melalui sarana teknologi; koran, radio, televisi, telepon, dan internet.
Tuntutan kebutuhan terhadap informasi dalam masyarakat sebagian telah dapat dipenuhi melalui sarana telematika. Melalui sarana telematika orang dengan mudah mendapatkan informasi dari belahan dunia mana pun secara cepat. Berita terbaru mengenai kejadian-kejadian penting dengan segera dapat dinikmati melalui cyber journalism (jurnalistik berinternet). Meskipun sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, pemanfaatan jurnalistik berinternet masih kalah dengan media cetak khususnya surat kabar, majalah, dan jurnal-jurnal karena berbiaya murah serta mudah didapatkan.
Era demokrasi yang telah bergulir di Indonesia sejak tahun 1998 sampai sekarang belum dapat mengantarkan sastra di menara gading. Namun dunia sastra yang minim perhatian atau kurang diperhitungkan oleh masyarakat pembaca, dewasa ini telah banyak menghiasi kolom-kolom koran daerah maupun koran nasional. Pada masa sebelum proklamasi Indonesi diikrarkan terlihat adanya semangat revolusi di dalam kesastraan dan kesenian negeri ini, selain dalam politik. Surat-surat kabar dan majalah republik bermunculan di banyak daerah, terutama di Jakarta, Yogyakarta, dan Surakarta. Seiring dengan itu lahirlah suatu generasi sastrawan dinamakan ‘Angkatan 45’, dengan orang-orang yang daya kreatifnya memuncak pada zaman revolusi. Kenyataan sastra telah mampu menyemangati perjuangan revolusi pada zamannya merupakan bukti bahwa sastra bermanfaat dan dapat dinikmati. Menurut pandangan penulis, pada saat ini sastra belum kembali pada rohnya, hal itu terlihat pada apresiasi masyarakat dalam memosisikan sastra sebagai sajian keseharian yang layak dalam kehidupan.
Di era tahun 1945 karya sastra anak bangsa yang dimuat dalam koran mampu mengobarkan semangat juang revolusi nasional dan memopulerkan maestro sastra di Indonesia. Banyak karya-karya Chairil Anwar dimuat dalam majalah era 1945 seperti Pantja Raja, Zenith, Pembangoenan, Siasat, Internasional, Pemandangan, dan Berita. Bahkan banyak karya Pramoedya Ananta Toer: Kranji-Kranji Jatah, Keluarga Gerilya dikerjakan dalam penjara Belanda Bukit Duri akhirnya dipopulerkan juga oleh koran the Voice of Free Indonesia di Jakarta tahun 1947. Hal itu telah membuktikan bahwa perjuangan bangsa ini tidak terlepas dari peran karya sastra sebagai corong perjuangan bangsa ini.
Tidak dapat dibantah lagi bahwa surat kabar berperan dalam memasyarakatkan sastra secara umum. Darmanto Jatman (1998) menceritakan di negeri Cina, tokoh sastra Lim Kim Hok dianggap sebagai orang yang berjasa menaikkan derajat bahasa Melayu Tionghoa menjadi bahasa sastra karena kesastraan Melayu Tionghoa di awal abad ke-20 semula dianggap hanya karya bahasa murahan akhirnya melalui media masa koran pada waktu itu menjadi karya bahasa terhormat.
Fungsi utama sebagai penyampai berita (message) aktual, surat kabar juga berfungsi memberikan informasi tentang perkembangan budaya, teknologi, pendidikan, politik, dan termasuk di dalamnya perkembangan sastra sebagai hasil budaya. Dalam surat kabar, cara pandang sastrawan terhadap situasi ditampilkan dalam format lain tidak selalu sama dengan cara pandang seorang politikus, agamawan, budayawan, dan bahkan penguasa. Hal itulah yang mungkin menjadikan sastra sebagai produk yang unik dan bahkan menjadikannya terasing dari tangan penikmat.
Begitu penting kehadiran sastra dalam masyarakat, mengharuskan perlunya membangun komitmen dasar tentang kesastraan. Untuk menjalin komunikasi antara masyarakat, karya sastra, dan sastrawan banyak cara yang bisa ditempuh. Tanggung jawab untuk memasyarakatkan sastra sebenarnya tidak hanya tertumpu di pihak pemerintah, tetapi media cetak, dan masyarakat juga harus berperan untuk melestarikannya. Yuwana Sudikan (2003) mengatakan bahwa melalui pemerintah, sekolah, masyarakat, dan sastrawan bersinergi membangun atmosfer sastra di negeri ini. Sehingga tujuan ideal yang mungkin dapat dicapai, ke depan karya sastra dapat disejajarkan dengan karya iptek, karena menurut Menteri Komunikasi Daoed Joesoef (Media Indonesia,11/03/2007), karya sastra berpotensi melahirkan pesan-pesan kultural dari kebekuan rutinitas sehari-hari. Lewat sastra, budaya dari setiap individu juga akan terbangun secara mantap.
Peran media cetak dalam memasyarakatkan sastra, dengan format sajian liputan cerpen, puisi, dan esai sastra ternyata berpengaruh terhadap pertumbuhan komunitas-komunitas sastra di masyarakat. Karena peranannya terutama di masa perjuangan mampu mengobarkan semangat juang dan mengenalkan para tokoh sastrawan di republik ini, maka media cetak pantas mendapatkan penghargaan dari masyarakat. Karya sastra melalui media cetak semoga masih tetap diminati oleh sebagian banyak orang serta sastra tidak menjadi terkungkung dalam dunianya sendiri. Semoga.


* Penulis adalah penikmat sastra tinggal Lampung

ANTARA SATU

Tergilas aksa
Antara satu yang tak berjalan
Batas bayang beradu bayang
Hanya detak-detak waktu terbilang
Tetap tak kan terbilang

Musnah hancur hanyut
Menyisir langit merengkuh bumi
Antara satu yang tak berjalan
Melanglang mega menabur mendung
Memang angan salah, begitukah

Tak kan berhenti diantara lembah

Solo, Januari 1997

SOBAT

Apa kau genggam
Perlukah kutahu
Mataku leleh tawamu menggema
Perlukah kumati

Kau didihkan aku
Kau injak perdikanku
Segulung kata gorok otakku

Aku dilempari bara apimu
Matikan…matikan
Ulurkan walau sejarak saja
Biar kutahu legam pecimu

Yogyakarta, April 1999

DOR

Siap…grak
Hormat …grak
Dor…dor…dor
Matador atau tukang kompor
Dor…dor…dor
Lontong siapa isinya pelor

Dor…dor…dor
Tanjidor digantung kolor
Dor…dor…dor
Metropolis ditangan Bogor
Dor…dor…dor
Moyang pelaut miskin komodor

Dor…dor…dor
Sedang rapat malah molor
Dor…dor…dor
Tuan-tuan sulit digedor
Dor…dor…dor
Berkantor kalau waktu kendor

Dor…dor…dor
Tukang kompor disangka koruptor
Dor…dor…dor
Bayi-bayi berdandan menor
Dor…dor…dor
Senator-senator membenci teror

Dor…dor…dor
Relawan tagih honor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo menjadi horor
Dor…dor…dor
Lumpur lapindo melebihi teror

Dor…dor…dor…dor
Balik kanan perbanyak pelor

Bandarlampung, Mei 2007